Selasa, 18 Agustus 2009
puisi-puisi
Untuk :
Ev-e
Dalam keremangan yang mengusik
Ku pandang bayangmu
Menari dalam keheningan Elegi
Menyanyi di kesunyian makam-makam
Cahaya yang menerangi kesendirianku
Membiaskan bayangmu dalam pedihku
Menyembilu luka-luka yang terkuak
Dari kenangan lalu
Bunga-bunga yang mekar
Seiring kisah indah itu
Layu dalam kedinginan dan kesendiriannya
Mencari-cari embun di tengah gurun bisu
Ku lukis bayangmu dalam hatiku
Sebagai kilauan mutiara di dasar samudra
Ku tanam rasaku padamu
Sebagai mawar abadi dalam jiwa
Betapa gegabah penyair
Melukis bayang indahmu …
Seperti mencoba…
Menerka matahari…
Kidung kidung kematian yang menggema
Memisahkan kita dalam sedih tak berujung
Tapi….
Bukankah sudah kukatakan
Kau tak akan pergi dari hatiku
Sebab …
Dalam keremangan yang mengusik
Ku kan peluk bayangmu
Menepis dingin dalam malam-malamku
Hanya ingin…
Bersamamu ….
Selamanya
Tegar
Juli 2009
LAGU CINTA YANG MATI
Terbuai aku dalam alunan lagu
Bahasa hati, datang melalui melodi
Petikan gitar dan dayu seruling
Jeritan bahasa tak terperi
Sedangkan di sini
Di hamparan gurun sepi
Jauh dari liriklirik
Lagu cinta
Di sini
Di alunan duka yang menghabiskan asa
Membenamkan setiap jiwa
Yang mencoba menyanyi
Senandung sepi
Hanya mencoba menerka
Adakah cinta di hati mereka
Yang menari dalam alunan melodi
Sedang kini aku terjepit
Dalam sunyi…
Di sini
Jiwa-jiwa meronta menghelat duka
Dan aku masih mencoba bernyanyi
Menepis pilu yang merenggut jiwa
Angin mendayu dalam kalbu
Membawa kabar dan budaya
Ke mata dan telingtelinga
Mereka yang menyanyi tanpa rasa
Jadi menangislah wahai pelantun lagu-lagu cinta
Sebab di sudut kota berhati mati
Lagumu tak kan pernah sampai
Hilang di bawa angina mati
Menangislah wahai pelantun lagu cinta
Sebab kau bernyanyi dan menari
Di atas penderitaan kami
Hingga dalam sisa nafas kami
Di situlah ku temukan
Lagu-lagu cinta kami
Yang tak ada, padamu… Tegar.A Juli 2009
Cinta Terlarang
Apa yang terjadi ?
Adakah Cinta merenggut kita
Dari selimut hangat
Kasih adat tak terperi
Aku berlari dan berlari
Membawa luka
Menerjang dingin bukitbukit
Dan hujan semalam…
Apakah yang terjadi ?
Mentari murung menyaksikanmu
Tak ada tawa dalam musim semi-mu
Tak ada apapun…
Aku tak ingin kau terluka
Biarkan aku berlari…
Memagut sepiku sendiri
Tanpamu, di detik lain…
Aku adalah narapidana
Dalam penjara Cinta dan Hidup
Tak ada yang tahu
Begitu-pun kau…
Jadi kenapa kau masih harapkanku
Aku hanya luka untuk-mu
Bukan caya suci
Atau hangat api…
Kau akan bahagia di sana
Tanpaku,…
Sedang aku…
Kau tak akan tahu, sungguh tak tahu…
Tuhan….
Hilangkah separuh hatinya tanpa-ku ?
Sedang ku tahu
Tak ada bunga lain dalam taman jiwaku
Yang kini remuk
Hancur…untuk pertama kalinya !
Tegar .a
Agustus 2009
cerpen anak

KASUS BESAR
Anak laki-laki itu duduk menyendiri di taman sekolah yang sepi, menghindari keramaian oleh sekumpulan anak yang mengobrol asyik tentang game terbaru PS portable. Bahkan terus terdiam dalam pesta ulang tahun sekolah dan perayaan kemenangan tim sepak bola dalam pertandingan antar sekolah kemarin.
Anak itu, Doni. Wajahnya tampak murung, matanya sayu menandakan ia tak tidur selama beberapa hari. Akhir-akhir ini ia jadi suka menyendiri, padahal sebelumnya ia adalah anak yang periang. Teman-temannya heran bukan kepalang, begitu juga aku. Jika sebelumnya ia suka bercanda dan bermain bola denganku, sekarang ia lebih senang menyendiri di taman sekolah yang sepi.
Suatu hari aku mencoba menghiburnya, kubawakan ice cream pisang favoritnya dan mencoba mengajaknya bicara. Namun ia lebih banyak diam, bahkan membiarkan ice cream di tangannya habis karena melumer. Ia baru mau bercerita ketika bel masuk kelas hampir berbunyi, dan itu tak memberiku banyak waktu untuk berbicara lagi. Agak terpaksa aku mengajaknya masuk kelas. Entah kenapa setelah itu aku semakin penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi pada Doni ?.
****
Keesokan harinya, aku tak membuang waktu lagi untuk mengajaknya bicara. Rasanya aku semakin penasaran, apalagi hari itu kutemukan Doni menangis sendirian di taman. Agak ragu aku mendekat, dia segera menghapus airmatanya agar aku tak melihatnya. Dengan berbagai cara, akhirnya aku bisa membuatnya berbicara, meskipun dengan enggan, Doni mulai bercerita padaku :
“aku sedih Gar, Bapakku tak pulang….sudah tiga bulan ini !”
“lho., bukannya beliau memang sedang bekerja ?”. tanyaku penasaran
“tidak, aku tak percaya…Ibu memang bilang bahwa Bapakku dipindahkan.”
“nah…kenapa musti sedih ?”. Tanyaku lagi.
“tiga bulan sudah terlalu lama, seharusnya beliau sudah pulang.”
“mungkin sibuk ?”
“aku kenal bapakku, sesibuk apapun beliau selalu menyempatkan untuk pulang, sebulan sekali paling lama. Beliau juga pernah bilang bahwa sibuk kerja bukan alasan untuk melupakan keluarga!”.
Aku terdiam, kalimat yang akhir itu diucapkan dengan tegas meskipun dengan nada sedih. Ini mengingatkanku akan keadaanku sendiri ; betapa Ayahku jarang pulang karena sering ditugaskan keluar kota. Ayahku terlalu sibuk, bahkan untuk mengajakku camping atau bermain bola di hari libur ; kegiatan menyenangkan yang dilakukan anak-anak lain bersama Ayahnya di saat liburan itu hanya menjadi angan bagiku. Diam –diam aku iri pada Doni, ia lebih beruntung dari pada aku.
“kau harus sabar Don !.” nasihatku padanya selain kutujukan pada diriku sendiri.
“bukankah kau bisa berdo’a, agar beliau cepat pulang”. Usulku menambahkan.
“ah…ya!” Doni memandangku.
“nah..jangan biarkan kesedihan membuatmu melupakan-NYA Don, itu kata Ayahku!”.
Doni berterima kasih, aku tahu dari nada suaranya yang berubah, ia jauh lebih ceria daripada tadi.
****
Setelah itu Doni tak lagi tampak menyendiri. Ia bahkan jauh lebih ceria dan mau bergabung dengan teman yang lain. Aku ikut senang ketika Doni bilang bahwa Bapaknya telah memberi kabar melalui telefon. Doni tampak gembira, ya, bukankah ia tahu bahwa Bapaknya baik-baik saja.
Namun keadaan ini tak berlangsung lama, sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi pada Doni. Tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba ia marah padaku. Aku mencoba menenangkannya, tapi ia salah mengerti. Doni menjadi kalut, dan aku sudah hendak mengajaknya bicara ketika tinjunya mendarat mulus di perutku. Aku terjungkal, perutku mual.
“aghh..!” aku terpaksa merintih, ketika kemudian Doni menghamburkan kata-kata dalam nada yang sangat marah:
“Hehh…kupikir kau teman baikku, ternyata selama ini kau menipuku !”
“Apa maksudmu …Don?” ku tahan rasa sakit, bekas luka di siku dan lututku memerah, beradu dengan paffing taman yang kasar waktu terjatuh tadi.
“selama ini kau menipuku, kau menghiburku agar aku memaafkanmu jika nanti aku tahu bahwa….”. Nafasnya tersengal-sengal.
“Bahwa apa ?”teriakku jengkel.
“Bahwa Ayahmu menangkap Bapakku. Rianto Rachmad, bukankan itu nama Ayahmu ?”. Doni bertanya menjerit.
“Betul memangnya kenapa ?” aku bertambah jengkel.
“kutemukan nama dan tanda tangannya dalam surat penangkapan Bapakku, ia adalah Kepala Kepolisian. Ya kan ?”. nada suaranya meninggi dan tubuhnya bergetar-getar.
“iya betul, tapi aku tak …” Belum sempat kuteruskan kalimat ini, tinju Doni hampir mengenai wajahku tapi aku masih sempat menghindar. Seketika itu beberapa guru dan siswa datang melerai kami, di tengah keriuhan mereka aku baru yakin bahwa kami berdua langung dibawa ke ruang Kepala Sekolah.
Aku masih tak habis fikir kenapa Doni jadi berubah begitu, apa yang dimaksudkannya dengan ‘surat penangkapan?’, apa yang terjadi sebenarnya ?, apa hubungan ayahku dengan bapaknya Doni ?. Segala bentuk pertanyaan begitu memenuhi benakku,. Ruang Kepala Sekolah yang megah justru terasa mengurungku. Sorotan tajam mata Kepala Sekolah seakan mengusik kegusaran dalam hatiku. Semuanya tetap begitu, sampai akhirnya Ibuku datang ke sekolah diikuti Ibu Doni.
Melihat aku kesakitan Ibuku langsung memelukku. Sejenak kurasa ia sangat khawatir; sikap yang jarang diperlihatkannya padaku sejak ia sibuk dengan pekerjaan kantornya.
“apa yang terjadi Nak?”
Aku diam begitu pun Doni, ia tampak ketakutan dan langsung memeluk Ibunya yang baru datang. Bapak Kepala Sekolah yang menjelaskan semuanya, beliau pula yang meminta janjiku untuk tidak berkelahi lagi. (Entah kenapa mereka mengira aku yang memulai perkelahian ini). Mungkin mereka berfikir bahwa anak periang seperti Doni tak mungkin mengajak berkelahi duluan. Padahal kan belum tentu.
****
Hari ini secara tiba-tiba Ibuku mengajakku bermain ke rumah Doni.
“Mumpung libur, sekalian bersilaturohmi dan meminta maaf !”. kata Ibu
‘Hah…ternyata begitu, ngapain juga musti minta maaf ,orang aku nggak salah!’, batinku. Tapi akhirnya aku ikut.
Lima belas menit, kami sudah duduk di ruang tamu rumah keluarga Doni. Waktu aku datang Doni tampak tak acuh, hanya Ibunya yang menyambut kami dengan hangat.
“sebelumnya saya minta maaf, saya tak tahu bahwa Pak Rianto Rachmad itu suami Ibu, Ayah Tegar…!” kata Ibu Doni sambil mempersilahkan kami meminum teh yang telah dibawakannya sendiri dari dapur.
“Memang benar Bu, tapi apa hubungannya dengan keributan antara Tegar dan Doni ?” Tanya Ibuku.
“Sebenarnya secara tak sengaja Doni menemukan surat penahanan Bapaknya, di sana ada nama dan tanda tangan suami Ibu!”. Sebentar ia menoleh anaknya di luar rumah, seperti takut jika Doni mendengarnya.
“oleh karena itu …” kata-kata Ibuku terpotong.
“Doni tahu Bapaknya ditahan karena kasus Illegal loging, tapi ia tak bisa percaya dan melampiaskan kemarahannya pada Tegar, sebenarnya saya telah berupaya agar Doni tak tahu tentang masalah ini, tapi akhirnya…., semua itu semata karena Doni rindu akan Ayahnya !”. Ibu Doni bekata dengan nada yang begitu sedih.
****
Doni tampak marah dan tak nyaman berada satu mobil denganku, hari itu kami memutuskan menjenguk Bapak Doni di Rumah Tahanan.
Dari balik terali besi, Bapak Doni memandang anaknya. Ia tampak terkejut melihat kedatangan kami.
“maafkan Bapak Nak !” katanya lirih pada Doni.
“kenapa Pak ?” Tanya Doni tak kalah lirihnya. Ini adalah kali pertama ia menjenguk Bapaknya.
“Bapak memang bersalah, selama ini bapak menutupi semuanya!”.
“benarkah Bapak melakukan semua ini ?”. Doni menatap sedih.
“semua betul, dan Bapak patut dihukum..!”
“tapi….!!”. Doni menangjs.
“Bapak hanya ingin berpesan Nak, tolonglah..!”
“Iya.. Pak!”
“Kau harus jadi anak yang baik, kau harus sayang pada Ibumu, belajarlah yang rajin dan… jangan lagi kau berkelahi karena Bapak,…bapaklah yang salah”.
Aku terharu, begitu pula Ibuku. Betapa Bapak Doni mencintai dan tetap memperhatikan Anaknya meskipun tengah berada di dalam penjara. Keadaan ini memberi pelajaran padaku, betapa dekatnya hubungan anak dan Orang tua, sesuatu yang selama ini kurasakan pudar dalam keluargaku, semuanya karena Orangtuaku sibuk bekerja.
****
“Gar, maafkan aku, ya?” kata Doni
Aku hampir tak percaya Doni meminta maaf.
“aku yang salah, kita bisa jadi teman lagi kan ?”. Katanya lagi.
Aku masih termenung, Doni cepat sekali berubah.
“tentu saja, kita kan teman…tetap teman sampai kapanpun!”. Kataku mantap membuat Doni tersenyum.
Setiap kali sempat sejak Bapaknya dalam penahanan, Doni selalu mengunjunginya. Dia mengaku sangat senang, bahwa jeruji besi itu bukan memisahkan tetapi mendekatkan antara dia dan Bapaknya.…
Sekian
cerpen anak
THANK’S AND GOOD BYE TORI, WELCOME DORY !
Tori menikmati tidur siang dengan merebahkan tubuhnya di atas keset. Kepala mungilnya tersembunyi di antara dua kaki depannya yang menjulur ke depan, telinganya layu tertelungkup dan perut gendutnya kembang kempis oleh irama nafasnya yang tenang. Dalam keadaan tidur pulas seperti itu, Tori terlihat sangat lucu dan mengemaskan.
Tadinya aku mencoba menggambarnya sebagai tugas dari guru kesenian-ku. Tapi ternyata menggambar Tori itu sulit. Belang-belang bulu dan bentuk tubuhnya yang lucu justru menjadi bagian tersulit ketika aku mencoba memindahkannya pada media kertas gambar. Tentu saja aku kecewa, Tori yang manis itu harusnya bisa menyumbangkan nilai plus untuk mata pelajaran seni-ku semester ini.
Akhirnya aku menyerah, ku letakkan pensil dan kertas gambarku , lalu kuamati Tori dalam tidur pulasnya :
Si Tori, kucing
Kalau sedang sendirian di rumah, Tori menjadi temanku satu-satunya. Meskipun hanya seekor kucing Tori ternyata sangat berarti untukku. Dengan kelucuan dan kelincahannya ia bisa membuatku tertawa saat sedih, dan membuatku tetap bersemangat dengan tingkahnya yang menggemaskan. Entah kenapa kurasa Tori bisa memahami apa yang aku katakana. Akhirnya kami menjadi teman baik, meskipun dia tak pernah bicara padaku selain menggumamkan satu kata : “meong!”. Satu kata yang mungkin berarti : hallo…Bosss!”. He..he
*****
Ketika Tori sudah lebih besar , setiap pagi di hari libur ku ajak ia jalan-jalan keliling kompleks. Ia sangat senang, mungkin merasa bebas saat keluar rumah. Tapi suatu pagi yang cerah, ketika aku jalan bersama Tori musibah itu terjadi:
Waktu itu aku dan Tori jalan-jalan pagi melewati sebuah rumah tua yang kosong. Aku sedikit takut sebab saat itu sepi dan tak ada orang yang lewat.
Tori berjalan di depanku, sempat kuperhatikan ekornya berdiri; itu menandakan ia sedang siaga atau ketakutan. Kami berjalan pelan dan ragu, dan benar saja seekor ular sebesar lengan ayahku tiba-tiba menyerang ke arah kami. Aku menjerit dan tori mengaum keras –tak pernah ku dengar suara seram Tori yang seperti itu sebelumnya--.
Tori melompat dan menerkam bagian kepala ular yang nyaris saja menggigitku. Beberapa detik berlalu saat Tori berkelahi dengan ular itu, suara desis ular dan auman geram Tori membuatku termangu. Tubuh Tori terbelit, ia mengeong keras kesakitan . Tanpa memperhatikan luka-luka di kaki dan tanganku, ku ambil sebuah batu sebesar tinjuku sendiri. Ku lemparkan sekeras mungkin dan langsung menghantam kepala ular itu, yang terpuruk di tanah dan pingsan.
Tori berjalan terpincang-pincang, kakinya berlumuran darah dan tampak dua lubang besar bekas gigitan ular ganas itu. Aku terduduk lemas, kejadian mengerikan yang baru saja itu betul-betul membuatku ‘syok’, begitu pula Tori, ia merebah lemas di kakiku dan memjamkan mata.
“Tori..Tori.!”teriakku dalam suara tertahan, sempat ku kira Tori sudah mati. Dan aku benar-benar tak sadarkan diri setelah itu.
***
Ketika terbangun aku telah berada di dalam sebuah ruangan yang serba putih. Selang infuse terpasang di lenganku. Tubuhku terasa sakit dan memar di sana-sini.
Di samping tempatku terbaring, Ayah dan Ibu tampak cemas menungguiku. Ibu membelai kepalaku dengan lembut, dan tampak tersenyum ketika aku mulai membuka mata.
“Nak..kau sadar ?” rintih Ibu, air mata mengalir di pipinya.
Aku hanya bisa menggumam, seluruh tubuhku sperti patah.
“bagaimana perasaanmu Nak ?”. Tanya Ayah.
“sakit!!”
“Tori di mana ?”. tiba-tiba aku teringat Tori, ingin saja kau melompat untuk melihat bagaimana keadaannya sekarang, tapi mereka tetap terdiam, air mata Ibu justru lebih deras mengalir
“Tori sudah nggak ada Nak, ia tak tertolong !” Jawab Ibu sedih.
Tori, kucing kesayanganku dan juga satu-satunya teman sejatiku di kala sendirian, kini telah tiada. Ia tak terselamatkan hanya karena dia seekor kucing. Orang-orang yang menolongku itu mengira Tori hanyalah kucing liar.
Tori satu-satunya teman dalam kesepianku, kini hanya meninggalkan kenangan indah yang semakin membuatku merindukannya.
Hari-hariku tanpa kehadirannya adalah hari-hari muram dan kesedihan. Sampai pada akhirnya suatu siang yang cerah, ibuku tiba dari kantornya dengan membawa sebuah bungkusan kardus. Tidak seperti biasanya hari I tu ibuku pulang lebih awal. Yang lebih menarik perhatianku adalah bungkusan kardus yang di bawanya. Sungguh aneh melihat ibu dalam seragam kantor necis-nya membawa kardus usang yang ada beberapa lubang di sudutnya.
“hey..Nak..kejutan.. !!”. Sapa ibu mencoba menghiburku yang terdiam sendirian di ruang tamu.
“apa itu bu..?”
Ibu meletakkan kardus itu di meja, samar-samar terdengar suara dari dalamnya :
“miauw..miauw”.
Aku langsung membukannya, seekor anak kucing merebah di atas serpihan serpihan kain sebagai alas tidurnya.
“anak kucing!” seruku senang.
“itu…keponakan Tori-mu!”. Jawab ibu smbil meletakkan tas mungilnya.
“betulkah Bu?”. Tanyaku penasaran.
“ sebenarnya tadi Ibu ke rumah Kakek, bukan ke kantor !” Jawab ibu tampak ceria sambil melepas sepatu high-heels-nya.
“lagian ibu pastikan mulai sekarang kamu takkan sendirian di rumah !”.
“kenapa begitu ?”.
“ibu sudah putuskan berhenti kerja, ibu tak ingin kejadian mengerikan seperti kemarin terulang lagi !”.
“wahh!!” seruku girang bukan main.
***
` Akhirnya aku tak sendirian lagi, aku tak kesepian lagi. Meskipun Tori tak mungkin pernah bisa kembali, kehadiran Dory—keponakannya ini—seperti mengembalikan sosoknya yang lucu dan menggemaskan itu. Mereka memang sangat mirip.
Dan yang paling membahagiakan adalah orang tuaku mulai berubah, mereka tak lagi hanya mementingkan pekerjaan. Kematian Tori dalam bencana itu, nampaknya telah menyadarkan mereka betapa aku masih membutuhkan kasih sayang mereka setiap saat.
Satu-satunya foto Tori yang pernah ku ambil saat bermain di taman, ku rekatkan dengan foto baruku bersama Dory. Di bawahnya ku tulis:
“THANK’S N GOOD BYE TORRY--
WELCOME DORY”
Melalui foto itu, aku bisa mengenang Tori, kucing manisku yang hebat.Mungkin ia memang telah tiada, namun kenangan bersamanya akan selalu ada di sini, di dalam hatiku.
Sekian
Kamis, 30 Juli 2009
Deepest song's lyricS
Heal The World
oleh: Michael Jackson
KIRIM EMAIL KE TEMAN
Informasikan ke teman-teman Anda mengenai Lirik dibawah melalui email.
spoken:
Think about the generations and to say we want to make it a better
world for our children and our children's children. So that they know
it's a better world for them; and think if they can make it a better
place.
There's a place in your heart
And I know that it is love
And this place could be much
Brighter than tomorrow.
And if you really try
You'll find there's no need to cry
In this place you'll feel
There's no hurt or sorrow.
There are ways to get there
If you care enough for the living
Make a little space, make a better place.
Chorus:
Heal the world
Make it a better place
For you and for me and the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for
You and for me.
If you want to know why
There's a love that cannot lie
Love is strong
It only cares for joyful giving.
If we try we shall see
In this bliss we cannot feel
Fear or dread
We stop existing and start living
Then it feels that always
Love's enough for us growing
Make a better world, make a better world.
Chorus:
Heal the world
Make it a better place
For you and for me and the entire human race.
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for
You and for me.
Bridge:
And the dream we would conceived in
Will reveal a joyful face
And the world we once believed in
Will shine again in grace
Then why do we keep strangling life
Wound this earth, crucify it's soul
Though it's plain to see, this world is heavenly
Be God's glow.
We could fly so high
Let our spirits never die
In my heart I feel
You are all my brothers
Create a world with no fear
Together we'll cry happy tears
See the nations turn
Their swords into plowshares
We could really get there
If you cared enough for the living
Make a little space to make a better place.
Chorus:
Heal the world
Make it a better place
For you and for me and the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for
You and for me.
Refrain (2x)
There are people dying if you care enough for the living
Make a better place for you and for me.
There are people dying if you care enough for the living
Make a better place for you and for me.
You and for me / Make a better place
Wait For You
oleh: Elliott Yamin
KIRIM EMAIL KE TEMAN
Informasikan ke teman-teman Anda mengenai Lirik dibawah melalui email.
![]()
[Verse 1]
I never felt nothing in the world like this before
Now I'm missing you
& I'm wishing that you would come back through my door
Why did you have to go? You could have let me know
So now I'm all alone,
Girl you could have stayed
but you wouldnt give me a chance
With you not around it's a little bit more then I can stand
And all my tears they keep running down my face
Why did you turn away?
[Bridge]
So why does your pride make you run and hide?
Are you that afraid of me?
But I know it's a lie what you keep inside
This is not how you wanted to be
[Chorus]
So baby I will wait for you
Cause I don''t know what else I can do
Don't tell me I ran out of time
If it takes the rest of my life
Baby I will wait for you
If you think I'm fine it just aint true
I really need you in my life
No matter what I have to do I'll wait for you
[Verse 2]
It's been a long time since you called me
(How could you forget about me)
You got me feeling crazy (crazy)
How can you walk away,
Everything stays the same
I just can't do it baby
What will it take to make you come back
Girl I told you what it is & it just ain't like that
Why can't you look at me, your still in love with me
Don't leave me crying.
[Bridge]
Baby why can't we just start over again
Get it back to the way it was
If you give me a chance I can love you right
But your telling me it wont be enough
[Chorus]
So baby I will wait for you
Cause I don''t know what else I can do
Don't tell me I ran out of time
If it takes the rest of my life
Baby I will wait for you
If you think I'm fine it just aint true
I really need you in my life
No matter what I have to do I'll wait for you
[Bridge]
So why does you pride make you run & hide
Are you that afriad of me?
But I know it's a lie what your keeping inside
Thats not how you wanted to be
Baby I will wait for you
Baby I will wait for you
If it's the last thing I do
[Chorus]
Baby I will wait for you
Cause I don''t know what else I can do
Don't tell me I ran out of time
If it takes the rest of my life
Baby I will wait for you
If you think I'm fine it just aint true
I really need you in my life
No matter what I have to do I'll wait for you
I'll Be Waiting.
You Raise Me Up
by Josh Groban ( 35591 views)
[ print lyric | tell a friend ]
When I am down, and oh my soul so weary
When troubles come, and my heart burdened be
Then I am still and wait here in the silence
Until you come and sit awhile with me.
You raise me up so I can stand on mountains.
You raise me up to walk on stormy seas.
I am strong when I am on your shoulders.
You raise me up to more than I can be.
You raise me up so I can stand on mountains.
You raise me up to walk on stormy seas.
I am strong when I am on your shoulders.
You raise me up to more than I can be.
(enter choir in background)
You raise me up so I can stand on mountains.
You raise me up to walk on stormy seas.
I am strong when I am on your shoulders.
You raise me up to more than I can be.
You raise me up so I can stand on mountains!
You raise me up to walk on stormy seas!
I am strong when I am on your shoulders.
You raise me up to more than I can be.
You raise me up to more than I can be.
| Avril Lavigne - My Happy Ending Lyrics |
| Artist : Avril Lavigne Avril Lavigne - My Happy Ending Lyrics So much for my happy ending |